Minggu, 18 April 2010

Fenomena Permainan Anak-Anak


                Beragam jenis permainan tradisional kini semakin jarang dijumpai. Permainan modern seperti video games dan play station dinilai dapat mengasah kreativitas anak namun mendidik mereka menjadi individualis. Selain itu kurang adanya lapangan tempat bermain menyebabkan anak-anak cenderung lebih memilih permainan seperti video games atau playstation



                Video game adalah sebuah bentuk dari multimedia interaktif yang digunakan untuk sarana hiburan. Game ini dimainkan dengan menggunakan sebuah alat yang bisadigenggam oleh tangan dan tersambung ke sebuah kotak alat atau console. Alat yang digenggam tangan tadi dikenal dengan nama joystick. Isinya adalah beberapa tombol-tombol sebagai kontrol arah maju, mundur, kiri dan kanan, dimana fungsinya adalah untuk berinteraksi dan mengendalikan gambar-gambar di layar pesawat televisi. Game ini juga biasanya dimainkan dengan memasukan sebuah keping CD yang bisa diganti-ganti atau cartridge yang harus dimasukkan ke dalam game console.
                Video game dengan console kini juga sudah berkembang pesat. Saat ini, pemain yang cukup dominan adalah X-Box dari Microsoft dan PlayStation keluaran Sony. PlayStation (PS) telah sukses dengan PSP-nya yang portable dan PS2 yang fenomenal karena harganya yang cukup murah, sekitar Rp.1,5 juta. Saat ini di pelosok perumahan umumnya terdapat rental PS2 yang bisadimainkan dengan biaya berkisar hanya Rp.1,500 per jam. PlayStation ini sendiri telah mengeluarkan versi baru, yaitu PS3 dengan harga banderol yang masih mahal, Rp.7 juta-an per unit (pada pertengahan 2007). Tidak diragukan lagi, tampilan dan akselerasinya jauh lebih halus dan cepat dari generasi pendahulunya.
                Awalnya, jika kita bermain sendiri di PC atau komputer, yang menjadi lawan kita adalah komputer itu sendiri. Tetapi dengan sistem jaringan (LAN: local area network), kita bisa melawan orang lain pada komputer yang terpisah, yang lebih dikenal dengan istilah multiplayer. Untuk dapat memainkannya, kita harus menghubungkan PC atau komputer ke sekelompok PC lain yang saling terhubung. Multiplayer game ini bisa dimainkan dengan jaringan lokal tanpa akses internet, tetapibisa juga dengan menggunakan akses internet. Multiplayer game yang tidak membutuhkan akses internet disebut juga sebagai LAN game.
                Permainan zaman kini seperti video game dan multiplayer game memang lebih banyak yang dirancang untuk dimainkan sendiri, tidak seperti permainan tradisional yang melibatkan interaksi banyak anak. Karena itu, anak-anak sekarang menjadi lebih individual dan tidak mampu bersosialisasi. Permainan tradisional seperti engklek dan gobak sodor lebih edukatif dibanding permainan-permainan anak yang ditawarkan di era modern ini. Permainan tradisional tak hanya meningkatkan kreativitas, namun juga kemampuan motorik anak.
 
               

Fenomena Kuliah Jarak Jauh

           Beberapa waktu lalu pada majalah Forbes, seorang guru management bernama Peter Drucker memberikan pernyataan berikut : "Thirty years from now, the big university campuses will be relics. Higher education is in deep crisis. The college won’t survive as a residential institution. Today’s buildings are hopelessly unsuited and totally unneeded". Secara bebas, terjemahannya adalah sebagai berikut: "Tiga puluh tahun dari sekarang, kampus-kampus dari universitas yang besar akan menjadi tempat keramat. Pendidikan tinggi dalam keadaan krisis yang sangat dalam. Institusi pendidikan tidak akan bertahan sebagai institusi yang menetap. Bangunan-bangunan universitas yang ada sekarang tidak lagi sesuai harapan dan tidak diperlukan sama sekali".
           Hal tersebut bukan tidak mungkin akan terjadi. Ini disebabkan adanya perkembangan teknologi yang sangat pesat, termasuk dalam bidang pendidikan. Perkembangan teknologi informasi saat ini, Internet, mengarahkan sejarah teknologi pendidikan pada alur yang baru, yaitu munculnya pendidikan jarak jauh. Pendidikan jarak jauh dapat memanfaatkan teknologi internet secara maksimal, dapat memberikan efektifitas dalam hal waktu, tempat dan bahkan meningkatkan kualitas pendidikan. Seseorang yang bertempat tinggal dan bekerja jauh dari kampus, memiliki waktu kerja yang padat akan berpikir beberapa kali untuk pergi kuliah melintasi jalan raya pada jam sibuk, menyediakan waktu beberapa jam setiap harinya untuk duduk di kelas, berkompetisi dan berkomunitas dengan mahasiswa yang berumur jauh dibawahnya, menyesuaikan jadwal kuliah, praktikum dan semua kegiatan lainnya dengan jam kerja. Bagi masyarakat dewasa yang setiap harinya bekerja dengan memanfaatkan waktu dari menit ke menit, akan sangat merasakan berapa banyak opportunity cost yang hilang dengan cara perkuliahan tradisional tersebut, di sisi lain, mereka juga ingin memperoleh tambahan ilmu yang lebih tinggi, karena hal itu juga mempengaruhi promosi jabatan yang pada akhirnya dapat meningkatkan gaji perbulan.
           Gambar 1 menunjukkan beberapa metode yang digunakan dalam melaksanakan perkuliahan jarak jauh.
Metode tersebut antara lain :
1. Audio conferencing
2. Video conferencing
3. Group conferencing
4. World wide web
          Dengan cara ini, maka masyarakat dewasa dapat bertindak efektif dan efisien dalam penggunaan waktu (yang oleh karena banyak hal didukung oleh kemajuan teknologi informasi) dan biaya sampai dengan 80% lebih ringan, karena dengan belajar jarak jauh, mahasiswa hanya membayar biaya yang dibutuhkan untuk perkuliahan saja, bukan untuk pemeliharaan gedung kampus, lapangan olah raga, gaji karyawan dan lain sebagainya.
         Namun, di sisi lain, kuliah jarak jauh juga memiliki kekurangan. Baru-baru ini fenomena kian membiaknya berbagai program kuliah yang sangat memudahkan mahasiswa dan cenderung melabrak berbagai aturan pendidikan. Sampai saat ini masih banyak perguruan tinggi (PT) yang melakukan penyimpangan. Salah satunya adalah memberikan kemudahan untuk kelulusan mahasiswanya. Akibatnya, kualitas PT menurun. Padahal, PT bertanggung jawab secara moral kepada masyarakat. Selain itu kuliah jaraj jauh juga cenderung menghilangkan etika-etika tradisional antara lain bertatap muka langsung dengan dosen dan teman-teman kuliah. Kita tidak terlalu mengenal teman-teman kuliah kita karena jarang bertatap muka, begitu pula dengan dosen kita.

Minggu, 04 April 2010

Gayus si Markus...


Susno lagi-lagi bikin heboh. Baru-baru ini, dia mengaku mengetahui adanya praktek makelar kasus (markus) yang melibatkan beberapa anggota POLRI. Kasus yang ditangani adalah kasus penggelapan pajak yang dilakukan oleh Gayus Halomoan Tambunan, seorang PNS golongan IIIA yang bekerja di Ditjen Pajak.
Beberapa saat setelah pengakuan Susno, pejabat kepolisian yang namanya disebut memperoleh uang dari Gayus, langsung membantah pengakuan Susno tersebut. Anehnya, pihak kepolisian tidak segera menindak lanjuti kebenaran pengakuan Susno dengan melakukan pemeriksaan terhadap nama-nama yang disebut, melainkan sibuk menjerat Susno dengan tuduhan pelanggaran kode etik. Meskipun begitu, banyak pihak yang memberikan apresiasi untuk Susno yang tidak takut untuk mengungkap kebenaran walaupun itu sama saja membuka aib POLRI, instansi yang telah membesarkan namanya.
Namun, begitu Gayus berhasil ditangkap dan diinterogasi, satu per satu nama yang terlibat mulai mencuat ke permukaan termasuk Edmond Ilyas, nama yang sebelumnya disebutkan oleh Susno kecipratan uang Gayus namun membantah dengan tegas. Bahkan, setelah mendengar pengakuan Gayus, Kapolri pun langsung mencopot Edmond Ilyas dari jabatannya sebagai Kapolda Lampung. Nama-nama berikutnya pun harus siap-siap dicopot dari jabatannya apabila terbukti menerima aliran dana dari Gayus.
Ulah Gayus ini tentu saja sangat merugikan Ditjen Pajak. Bagaimana tidak, gara-gara ulahnya, masyarakat menjadi enggan untuk membayar pajak. Masyarakat kecewa karena kewajiban membayar pajak yang telah mereka lakukan, ternyata disalahgunakan oleh oknum dari Ditjen Pajak itu sendiri. Banyak pegawai Ditjen Pajak juga merasa dirugikan karena sekarang masyarakat menganggap bahwa semua pegawai Ditjen pajak memiliki tingkah laku seperti Gayus.
Masyarakat tentu sangat resah dengan kondisi seperti ini. Sepertinya hukum di negeri ini sulit untuk ditegakkan dan hanya akan membela mereka-mereka yang berduit saja. Buktinya, jaksa saja bisa disuap. Memang kenyataanya hukum di negeri ini seakan-akan bisa dibeli dengan uang. Kalau hukum tidak bisa ditegakkan, bagaimana kebenaran bisa terungkap, dan bagaimana negeri ini bisa maju. Oleh karena itu diperlukan reformasi di dalam tubuh aparat penegak hukum dan lembaga hukum di Indonesia untuk memulihkan kepercayaan masyarakat terhadap lembaga hukum dan menegakkan sistem hukum di negeri ini. Selain itu, untuk memperbaiki citra lembaga hukum, maka harus ada perbaikan figur, yakni para pejabatnya harus bisa memberantas makelar kasus dan memperbaiki sistemnya.
Partisipasi kita tentunya juga diperlukan, yakni dalam keluarga, nilai-nilai kejujuran dan keikhlasan harus ditanamkan semenjak dini, mulai anak bisa belajar mengenal sesuatu. Sehingga nantinya setelah dewasa diharapkan tetap memegang teguh nilai-nilai tersebut. Sebagaimana kita tahu dari media, hubungan Gayus dengan orang tuanya sepertinya kurang harmonis. Bagaimana bisa seorang Gayus hidup dengan segala kemewahan bersama keluarganya, sementara orang tuanya tinggal di rumah kecil yang kurang layak untuk ditempati. Ironis sekali..! Orang tuanya pun mengaku sudah tidak pernah berkomunikasi lagi dengan Gayus semenjak ia menikah.
Diibaratkan sinetron, dalam kasus ini Gayus hanyalah aktornya saja, masih ada sutradara yang mengatur skenario di balik semuanya. Saat ini pemeriksaan intensif masih terus dilakukan terhadap Gayus untuk mengungkap siapa sutradara di balik semua ini. Semoga saja masalah ini segera diselesaikan dengan baik dan tidak ada lagi Gayus-Gayus yang lain…amin