Minggu, 04 April 2010

Gayus si Markus...


Susno lagi-lagi bikin heboh. Baru-baru ini, dia mengaku mengetahui adanya praktek makelar kasus (markus) yang melibatkan beberapa anggota POLRI. Kasus yang ditangani adalah kasus penggelapan pajak yang dilakukan oleh Gayus Halomoan Tambunan, seorang PNS golongan IIIA yang bekerja di Ditjen Pajak.
Beberapa saat setelah pengakuan Susno, pejabat kepolisian yang namanya disebut memperoleh uang dari Gayus, langsung membantah pengakuan Susno tersebut. Anehnya, pihak kepolisian tidak segera menindak lanjuti kebenaran pengakuan Susno dengan melakukan pemeriksaan terhadap nama-nama yang disebut, melainkan sibuk menjerat Susno dengan tuduhan pelanggaran kode etik. Meskipun begitu, banyak pihak yang memberikan apresiasi untuk Susno yang tidak takut untuk mengungkap kebenaran walaupun itu sama saja membuka aib POLRI, instansi yang telah membesarkan namanya.
Namun, begitu Gayus berhasil ditangkap dan diinterogasi, satu per satu nama yang terlibat mulai mencuat ke permukaan termasuk Edmond Ilyas, nama yang sebelumnya disebutkan oleh Susno kecipratan uang Gayus namun membantah dengan tegas. Bahkan, setelah mendengar pengakuan Gayus, Kapolri pun langsung mencopot Edmond Ilyas dari jabatannya sebagai Kapolda Lampung. Nama-nama berikutnya pun harus siap-siap dicopot dari jabatannya apabila terbukti menerima aliran dana dari Gayus.
Ulah Gayus ini tentu saja sangat merugikan Ditjen Pajak. Bagaimana tidak, gara-gara ulahnya, masyarakat menjadi enggan untuk membayar pajak. Masyarakat kecewa karena kewajiban membayar pajak yang telah mereka lakukan, ternyata disalahgunakan oleh oknum dari Ditjen Pajak itu sendiri. Banyak pegawai Ditjen Pajak juga merasa dirugikan karena sekarang masyarakat menganggap bahwa semua pegawai Ditjen pajak memiliki tingkah laku seperti Gayus.
Masyarakat tentu sangat resah dengan kondisi seperti ini. Sepertinya hukum di negeri ini sulit untuk ditegakkan dan hanya akan membela mereka-mereka yang berduit saja. Buktinya, jaksa saja bisa disuap. Memang kenyataanya hukum di negeri ini seakan-akan bisa dibeli dengan uang. Kalau hukum tidak bisa ditegakkan, bagaimana kebenaran bisa terungkap, dan bagaimana negeri ini bisa maju. Oleh karena itu diperlukan reformasi di dalam tubuh aparat penegak hukum dan lembaga hukum di Indonesia untuk memulihkan kepercayaan masyarakat terhadap lembaga hukum dan menegakkan sistem hukum di negeri ini. Selain itu, untuk memperbaiki citra lembaga hukum, maka harus ada perbaikan figur, yakni para pejabatnya harus bisa memberantas makelar kasus dan memperbaiki sistemnya.
Partisipasi kita tentunya juga diperlukan, yakni dalam keluarga, nilai-nilai kejujuran dan keikhlasan harus ditanamkan semenjak dini, mulai anak bisa belajar mengenal sesuatu. Sehingga nantinya setelah dewasa diharapkan tetap memegang teguh nilai-nilai tersebut. Sebagaimana kita tahu dari media, hubungan Gayus dengan orang tuanya sepertinya kurang harmonis. Bagaimana bisa seorang Gayus hidup dengan segala kemewahan bersama keluarganya, sementara orang tuanya tinggal di rumah kecil yang kurang layak untuk ditempati. Ironis sekali..! Orang tuanya pun mengaku sudah tidak pernah berkomunikasi lagi dengan Gayus semenjak ia menikah.
Diibaratkan sinetron, dalam kasus ini Gayus hanyalah aktornya saja, masih ada sutradara yang mengatur skenario di balik semuanya. Saat ini pemeriksaan intensif masih terus dilakukan terhadap Gayus untuk mengungkap siapa sutradara di balik semua ini. Semoga saja masalah ini segera diselesaikan dengan baik dan tidak ada lagi Gayus-Gayus yang lain…amin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar